Beranda | Artikel
Fadhilah Dakwah Ilallah
Senin, 13 November 2023

FADHILAH DAKWAH ILALLAH

Setiap orang yang beriman dan menjalankan ibadah serta berdakwah ilallah, memuliakan oleh Allah dengan memberikan beberapa karomah, di antaranya: Sesungguhnya Allah akan memuliakannya, meskipun ia tidak mempunyai sebab-sebab kemuliaan. Seperti Bilal dan Salman (semoga Allah meridhai mereka berdua). Allah akan menanamkan pada dirinya cinta kepada semua tunutnan agama dan dia cinta dalam melaksanakan serta menyeru kepadanya. Allah menjadikan baginya kecintaan dihati para makhluk Nya, dan Allah akan menghilangkan bentangan kebathilan di sekitarnya, Allah menguatkan dan membantunya dengan pertolongan yang ghaib dari sisi Nya, Allah mengabulkan setiap do’anya, Allah menjadikannya mulia dan dihormati, Allah memberikan baginya pahala dan pahala orang-orang yang diserunya serta orang yang telah mendapat hidayah karena dakwahnya.

  1. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَمَنۡ أَحۡسَنُ قَوۡلٗا مِّمَّن دَعَآ إِلَى ٱللَّهِ وَعَمِلَ صَٰلِحٗا وَقَالَ إِنَّنِي مِنَ ٱلۡمُسۡلِمِينَ [فصلت: ٣٣] 

Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah dan mengerjakan amal yang sholeh dan berkata: “Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri“. [Fushilat/41: 33].

  1. Dari Abu Hurairah Radhiyalahu anhu bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ دَعَا إِلىَ هُدًى كَانَ لَهُ مِنَ اْلأَجْرِ مِثْلُ أُجُوْرِ مَنْ تَبِعَهُ لاَ يَنْقُصُ ذِلكَ مِنْ أُجُوْرِهِمْ شَيْئًا وَمَنْ دَعَا إِلَى ضَلاَلَةٍ كَانَ عَلَيْهِ مِنَ اْلإِثْمِ مِثْلُ آَثاَمِ مَنْ تَبِعَهُ لاَ يَنْقُصُ ذَلكَ مِنْ آثَاِمهِمْ شَيْئًا

‘Barangsiapa yang mengajak kepada hidayah, maka baginya pahala sebagaimana pahala-pahala orang yang mengikutinya, dan tidak mengurangi pahala mereka sedikitpun. Dan barangsiapa yang mengajak kepada kesesatan, maka baginya dosa sebagaimana dosa-dosa orang yang mengikutinya, tidak mengurangi dosa-dosa mereka sedikitpun“. (HR. Muslim).

  1. Dari Sahl bin Sa’ad Radhiyallahu anhu bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepada Ali bin Abu Thalib Radhiyallahu anhu di hari khaibar.

اُنْفُذْ عَلىَ رِسْلِكَ حَتَّى تَنْزِلَ بِسَاحَتِهِمْ ثُمَّ ادْعُهُمْ إِلىَ اْلإِسْلاَمِ وَأَخْبِرْهُمْ بِمَا يَجِبُ عَلَيْهِمْ فَوَاللهِ َلأَنْ يَهْدِيَ اللهُ بِكَ رَجُلاً خَيْرٌ لَكَ ِمنْ أَنْ يَكُوْنَ لَكَ حُمُرُ النِّعَمِ

Berjalanlah dengan tenang kemudian serulah mereka untuk masuk Islam, dan beritahukan kepada mereka beberapa kewajiban atas mereka, demi Allah seandainya Allah memberikan hidayah kepada seseorang dengan perantaraan kamu, itu lebih baik bagimu daripada onta merah’ (Bukhori dan Muslim).

Manusia Dalam Beramal Terbagi Menjadi Dua Golongan
Di antara mereka, ada yang bersungguh-sungguh beramal dan bekerja untuk kehidupan duniawi sehingga larut di dalamnya, lalu pergi meninggalkannya (dengan kamatian). Di antara mereka ada yang bersungguh-sungguh dalam beramal untuk kehidupan akherat kemudian meninggal dan mendapatkan apa yang telah dikerjakannya, merekalah orang-orang yang beriman. Orang-orang yang beramal untuk kehidupan akherat. Mereka ini terbagi menjadi dua golongan:

Orang yang sibuk dengan ibadahnya semata. (Golongan ini) ketika meninggal terputuslah seluruh amalnya kecuali tiga perkara: shodaqoh jariyah, ilmu yang bermanfaat dan anaknya yang sholeh yang selalu mendo’akannya.

Orang yang menyibukkan dirinya dengan beribadah dan berdakwah ilAllah Subhanahu wa Ta’ala, di mana dia berkorban dan bersungguh-sungguh demi tegaknya kalimat Allah, maka amal baiknya akan terus mengalir kepadanya dari setiap orang yang mendapat hidayah yang disebabkan oleh dakwahnya, maka baginya pahala sebagaimana pahala orang yang mengikutinya sampai hari kiamat.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

أَجَعَلۡتُمۡ سِقَايَةَ ٱلۡحَآجِّ وَعِمَارَةَ ٱلۡمَسۡجِدِ ٱلۡحَرَامِ كَمَنۡ ءَامَنَ بِٱللَّهِ وَٱلۡيَوۡمِ ٱلۡأٓخِرِ وَجَٰهَدَ فِي سَبِيلِ ٱللَّهِۚ لَا يَسۡتَوُۥنَ عِندَ ٱللَّهِۗ وَٱللَّهُ لَا يَهۡدِي ٱلۡقَوۡمَ ٱلظَّٰلِمِينَ ١٩ ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ وَهَاجَرُواْ وَجَٰهَدُواْ فِي سَبِيلِ ٱللَّهِ بِأَمۡوَٰلِهِمۡ وَأَنفُسِهِمۡ أَعۡظَمُ دَرَجَةً عِندَ ٱللَّهِۚ وَأُوْلَٰٓئِكَ هُمُ ٱلۡفَآئِزُونَ٢٠ يُبَشِّرُهُمۡ رَبُّهُم بِرَحۡمَةٖ مِّنۡهُ وَرِضۡوَٰنٖ وَجَنَّٰتٖ لَّهُمۡ فِيهَا نَعِيمٞ مُّقِيمٌ ٢١ خَٰلِدِينَ فِيهَآ أَبَدًاۚ إِنَّ ٱللَّهَ عِندَهُۥٓ أَجۡرٌ عَظِيمٞ  [التوبة: 19، 22]

Apakah (orang-orang) yang memberi minuman kepada orang-orang yang mengerjakan haji dan mengurus masjidilharam, kamu samakan dengan orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari kemudian serta berjihad di jalan Allah? Mereka tidak sama di sisi Allah; dan Allah tidak memberikan petunjuk kepada kaum yang zhalim. Orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad di jalan Allah dengan harta benda dan diri mereka, adalah lebih tinggi derajatnya di sisi Allah; dan itulah orang-orang yang mendapat kemenangan. Tuhan mereka menggembirakan mereka dengan memberikan rahmat daripada Nya, keridhaan dan syurga, mereka memperoleh di dalamnya kesenangan yang kekal. Mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Sesungguhnya di sisi Allah pahala yang besar.” [At-Taubah/9: 19-22].

[Disalin dari مختصر الفقه الإسلامي   (Ringkasan Fiqih Islam Bab : Dakwah Kepada Allah Azza wa Jalla كتاب الدعوة إلى الله). Penulis Syaikh Muhammad bin Ibrahim At-Tuwaijri.  Penerjemah Team Indonesia islamhouse.com : Eko Haryanto Abu Ziyad dan Mohammad Latif Lc. Maktab Dakwah Dan Bimbingan Jaliyat Rabwah. IslamHouse.com 2012 – 1433]


Artikel asli: https://almanhaj.or.id/92488-fadhilah-dakwah-ilallah.html